Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku
William Van Kemmen adalah seorang anak kecil yang tampan, apalagi dengan biola yang selalu menemaninya. Namun, dalam hatinya ia merasa kesepian. Semua itu karena perpindahan keluarganya ke Hindia Belanda. Kini matanya kosong karena kesedihan, tidak ada yang mau berteman dengannya.
“Risa, kau gemuk!” “Risa, aku takut hujan!” “Risa, aku benci disebut hantu!” “Risa, seandainya gigiku tak ompong!” “Risa, aku rindu Anna….” “Risa… terima kasih, biarpun kau jelek, aku menyayangimu. Sama seperti sayangku kepada Annabelle. Jangan berhenti menemuiku karena menemuimu membuatku merasa hidup.” —Jantje Heinrich Janshen— Selama ini kita mem…
Rumah kakek tak lagi menyenangkan tanpa kehadiran adik dan sepupu sepupu yang lain
Hantu Belanda berambut pirang itu selalu terlihat marah, gusar, dan mengusir siapa pun yang datang ke rumah. Dia benci orang- orang berwajah Melayu, dia benci perempuan-perempuan cantik, dia benci keluarga manusia yang berbahagia. Namun yang paling parah, dia sangat benci aku. Berulang kali kudengar dia berteriak, "Pergi kau dari sini! Kau sahabat Elizabeth! Kau jahat! Sama seperti perempuan…