Badai kembali membungkus kampung kami.
Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad kami sebesar badai.. Tidak pernah kenal kata menyerah.
Pada suatu malam, ketika keluargaku kebetulan pulang kampung. aku dikagetkan oleh suara keras mereka. Apa mereka bertengkar? Kudengarkan baik-baik. Yang kiri mengatakan dengan lantang bahwa mereka sebenarnya tidak berasal dari kulit sapi yang sama.